tentang jembatan shiratu mustakim

Sebagai umat Islam, tentu nama jembatan Siratal Mustakim sudah tidak asing lagi di telinga. Jembatan tersebut merupakan penghubung antara surga dan neraka. Kita tentu sulit membayangkan bagaimana perwujudan jembatan tersebut, sebab para ulama menyebutkan bahwa titiannya sekecil rambut yang dibelah tujuh.
Jika sang penghubung surga dan neraka sekecil itu, bagaimana kita bisa melewatinya? Tak akan bisa dibayangkan dengan akal sehat. Tapi, dengan kekuasaan-Nya, tentu ada yang mampu melewatinya.  Terlepas dari cara bagaimana melewatinya, baiknya kita simak dulu beberapa fakta tentang jembatan Siratal Mustaqim tersebut.berikut adalah tentang jembatan shiratu mustakim:
  1. Shirâth tersebut amat licin, sehingga sangat mengkhawatirkan siapa saja yang lewat dimana ia mungkin saja terpeleset dan terperosok jatuh.
  2. Shirâth tersebut menggelincirkan. Para Ulama telah menerangkan maksud dari ‘menggelincirkan’ yaitu ia bergerak ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh.
  3. Shirâth tersebut memiliki besi pengait yang besar, penuh dengan duri, ujungnya bengkok. Ini menunjukkan siapa yang terkena besi pengait ini tidak akan lepas dari cengkeramannya.
  4. Terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak, dan tersambar oleh pengait besi atau tidak, semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing-masing orang.
  5. Shirâth tersebut terbentang membujur di atas neraka Jahannam. Barang siapa terpeleset dan tergelincir atau terkena sambaran besi pengait, maka ia akan terjatuh ke dalam neraka Jahannam.
  6. Shirâth tersebut sangat halus, sehingga sulit untuk meletakkan kaki di atasnya.
  7. Shirâth tersebut juga tajam yang dapat membelah telapak kaki orang yang melewatinya. Karena sesuatu yang begitu halus, namun tidak bisa putus, maka akan menjadi tajam.
  8. Sekalipun shirâth tersebut halus dan tajam, manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allâh Azza wa Jalla Maha Kuasa untuk menjadikan manusia mampu berjalan di atas apapun.
  9. Kesulitan untuk melihat shirâth karena kehalusannya, atau terluka karena ketajamannya, semua itu bergantung kepada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.

Komentar